• Kategori
    • Hidup Sehat
    • Kecantikan
    • Ibu dan Bayi
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Intim
  • Penyakit
  • Obat
  • Konsultasi

Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi meningkatnya tekanan darah kepada tingkatan yang dinilai berbahaya secara medis. Seseorang dianggap mengidap penyakit ini bila memiliki tekanan darah 140 mmHg atau lebih untuk tekanan darah sistolik dan 90mmHg atau lebih untuk tekanan darah diastolik.

Jika tidak ditangani dan terus berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah dan pada akhirnya meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal kronis.

Gejala Hipertensi

Pada awalnya, gejala kondisi ini umumnya tidak terasa. Namun lama-kelamaan indikasi akan mulai muncul ketika tekanan darah penderita telah mencapai tingkat yang parah.

Gejala yang dialami tiap penderita pun biasa berbeda-beda. Gejala ini juga akan dipengaruhi oleh ada atau tidaknya gangguan kesehatan lainnya. Apa saja yang umumnya menandakan tekanan darah tinggi?

  • Pusing.
  • Sakit kepala.
  • Sesak napas.
  • Mimisan.
  • Wajah memerah.
  • Darah pada urine (hematuria).

Apabila merasakan gejala-gejala di atas, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan medis secara rutin penting guna mengantisipasi risiko gangguan kesehatan apapun, termasuk tekanan darah tinggi.

Faktor Risiko dan Penyebab Hipertensi

Tekanan darah tinggi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu jenis primer dan sekunder. Pada dasarnya, kedua kondisi ini dibedakan berdasarkan durasi dan tingkat keparahannya.

Jenis Primer

Belum ada penelitian yang bisa memastikan bagaimana hipertensi primer bisa terjadi. Namun ada 1 hal yang pasti, yakni kondisi ini terjadi secara perlahan-lahan hingga menahun sebelum akhirnya tekanan darah mencapai tingkat yang membahayakan. Faktor risiko di baliknya meliputi:

1. Gaya Hidup

Seseorang dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami tekanan darah tinggi. Obesitas umumnya disebabkan oleh pola hidup yang kurang baik, seperti mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak berlebih ataupun kurang berolahraga.

Pada akhirnya, kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut menghadapkan penderita pada risiko serangan jantung dan stroke bila dilakukan dalam jangka panjang.

2. Gangguan Organ

Selain kebiasaan buruk, gangguan fungsi organ juga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi. Misalnya, masalah pada organ ginjal yang berdampak pada keseimbangan kadar cairan dan garam dalam tubuh seseorang.

3. Faktor Keturunan

Penderita atau seseorang yang berisiko tinggi menderita kondisi ini memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menurunkan kondisi yang serupa pada anak-anaknya.

Jenis Sekunder

Seseorang yang mengalami hipertensi sekunder dianggap berkondisi gawat darurat dan harus mendapatkan penanganan medis secepatnya. Hipertensi jenis ini bisa terjadi dengan cepat akibat beberapa kondisi yang mendasarinya, seperti:

- Apnea tidur obstruktif.

- Kelainan jantung kongenital.

- Penyakit ginjal.

- Gangguan tiroid.

- Gangguan endokrin.

- Gangguan kelenjar adrenal.

- Efek samping penggunaan obat-obatan.

- Penyalahgunaan obat-obatan.

- Efek kecanduan minuman keras jangka panjang.

Diagnosis Hipertensi

Penyakit ini sering dijuluki pembunuh diam-diam (silent killer) karena penderita biasanya tidak menyadari kondisinya. Pada jangka panjang, tekanan darah tinggi akan merusak pembuluh darah dan berujung pada penyakit jantung.

Maka dari itu, perlu pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mengetahui perkembangan tekanan darah dari waktu ke waktu. Langkah ini tidak hanya dianjurkan bagi penderita, orang pada umumnya juga sebaiknya melakukan pengecekan secara berkala.

Pemeriksaan tingkat tekanan darah tidak sulit. Dokter akan menggunakan tensimeter untuk memeriksanya. Tangan pasien akan dibebat guna mengetahui denyut aliran darah. Berikut angka tekanan darah yang dianjurkan berdasarkan usia:

  • Tekanan darah normal di bawah usia 60 tahun: Sistolik 120-129 mmHg dan diastolik 80-89 mmHg.
  • Tekanan darah normal di atas usia 60 tahun: Sistolik di bawah 150 mmHg dan diastolik di bawah 90 mmHg.
  • Tekanan darah tinggi di bawah usia 60 tahun: Sistolik di atas 140 mmHg dan diastolik melebihi 90 mmHg.
  • Tekanan darah tinggi di atas usia 60 tahun: Sistolik di atas 150 mmHg dan Diastolik melebihi 90 mmHg

Meski begitu, angka tekanan darah seseorang yang berada di atas normal tidak serta-merta berarti ia mengalami hipertensi. Dokter membutuhkan penilaian secara rutin pada hari-hari atau minggu-minggu berikutnya untuk memastikan apakah perubahan ini hanya sementara atau justru semakin parah.

Pada beberapa kasus, kenaikan tekanan darah bisa terjadi hanya di pengujung hari atau sebagai efek sementara dari konsumsi makanan tertentu. Jika memang itu keadaannya, tekanan darah biasanya akan kembali normal.

Bila melihat tekanan darah seseorang menjadi semakin parah seiring berjalannya waktu, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lain untuk mencari tahu penyebab-penyebab yang mendasarinya. Pemeriksaan yang dimaksud meliputi:

  • Pemantauan kolesterol di dalam darah.
  • Tes kandungan urine.
  • Uji efektivitas kerja jantung.

Tujuan dari pemeriksaan tersebut adalah mengantisipasi pasien dari tekanan darah tinggi jenis sekunder. Kondisi ini umumnya diakibatkan oleh gangguan kesehatan tertentu harus ditangani secepatnya.

Cara Mengobati Hipertensi

Pengobatan pada tekanan darah tinggi sebaiknya dilakukan melalui saran dari dokter karena penyebabnya mungkin berbeda-beda. Dokter akan menentukan jenis tekanan darah tinggi yang diderita sekaligus memberikan pilihan solusi dari hasil tersebut.

Jenis Primer

Obat-obatan adalah salah satu pilihan untuk membantu menyembuhkan hipertensi primer. Namun sebelum itu, biasanya dokter lebih mengutamakan pemberian saran untuk mengubah pola hidup kepada yang lebih sehat. Beberapa saran di antaranya:

1. Menerapkan Pola Makan Sehat dan Menjaga Berat Badan

Sayur-sayuran, buah-buahan, gandum, dan protein hewani dari ikan adalah jenis-jenis makanan yang baik untuk jantung. Makanan ini juga direkomendasikan untuk menangani sekaligus mencegah tekanan darah tinggi.

Pola makan yang sehat juga bermanfaat untuk menjaga berat badan. Dengan ini, angka berat badan diharapkan tetap berada pada batas angka yang ideal.

2. Berolahraga secara Rutin

Olahraga adalah cara yang tepat untuk mencegah stres, membakar kalori yang menumpuk, dan memperkuat kerja jantung. Cobalah luangkan waktu 30 menit selama setidaknya 3 hari dalam seminggu untuk melakukan olahraga.

Anda tidak perlu memilih jenis olahraga yang berat. Sebagai contoh, Anda bisa berjalan cepat atau berlari mengelilingi perumahan, maupun senam pagi di teras rumah sebelum berangkat kerja atau sekolah.

3. Berhenti Merokok dan Membatasi Konsumsi Minuman Beralkohol

Merokok termasuk salah satu penyebab terjadinya penyempitan pada pembuluh darah. Kondisi ini merupakan salah satu gejala dari tekanan darah tinggi.

Selain hipertensi, kebiasaan merokok dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko seseorang mengalami serangan jantung. Begitu juga bila Anda mengonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah berlebihan dan terus-menerus.

Hipertensi Sekunder

Jika menemukan adanya gangguan kesehatan lain yang mendasari lonjakan tekanan darah, dokter akan mengutamakan penanganan pada kondisi tersebut. Misalnya, pada tekanan darah tinggi akibat konsumsi obat tertentu, dokter akan menggantinya dengan obat jenis lain.

Pengobatan untuk tekanan darah tinggi jenis sekunder umumnya dapat berubah-ubah. Metode penanganan yang awalnya efektif, bisa menjadi tidak bermanfaat atau membahayakan pada tahap berikutnya. Oleh sebab itu, kondisi pasien akan terus dipantau oleh dokter

Seiring waktu, dokter akan terus melakukan pembaruan terhadap bentuk pengobatan yang diberikan. Beberapa jenis obat yang umumnya akan diberikan dapat berupa:

- Beta-blocker.

- Diuretik.

- Angiotensin II receptor blocker (ARBs).

- ACE Inhibitor.

- Alpha-2 antagonist.

- Calcium channel blocker.

Pencegahan Hipertensi

Pencegahan tentu lebih baik dari pengobatan. Ungkapan ini juga berlaku untuk tekanan darah tinggi. Anda bisa melakukan langkah-langkah sederhana berikut:

1. Mengombinasikan Jenis Makanan yang Lebih Sehat

Optimalkan asupan gizi yang sehat dan seimbang. Khususnya, mengurangi makanan berlemak dan menambah makanan berserat. Contohnya, daripada menambah porsi daging panggang, lebih baik meningkatkan konsumsi sayur dengan tambahan sedikit daging panggang.

Mulai kurangi juga makanan dan minuman yang mengandung banyak gula. Hindari minuman bersoda, sereal bergula, dan yoghurt yang manis. Cari tahu komposisi tiap makanan siap saji atau produk olahan sebelum mengonsumsinya.

2. Berolahraga dan Menentukan Target Berat Badan Ideal

Mendapatkan berat badan yang ideal butuh semangat tinggi dan konsistensi. Buatlah jadwal berolahraga yang santai. Tidak perlu memilih jenis olahraga berat agar tidak menyulitkan diri sendiri. Cukup melakukannya selama sekitar 30 menit, minimal 3 hari tiap minggu.

3. Melakukan Pemeriksaan Tekanan Darah secara Rutin

Setelah menjalani pola makan sehat dan berolahraga secara rutin, saatnya untuk memeriksa perkembangan tekanan darah. Langkah ini perlu dilakukan dengan rutin.

Kamu bisa melakukan pemeriksaan tekanan darah di rumah dengan tensimeter elektrik atau di klinik kesehatan. Memantau perkembangan tekanan darah akan meningkatkan kewaspadaan terhadap kesehatan. Penanganan pun bisa dilakukan secepatnya jika terjadi lonjakan secara tiba-tiba.

Hipertensi dan Kehamilan

Wanita dengan hipertensi berkemungkinan lebih tinggi untuk mengalami komplikasi. Sebagai contoh:

  • Wanita hamil dengan hipertensi mungkin mengalami penurunan pada fungsi ginjal.
  • Risiko bayi terlahir dengan berat badan di bawah rata-rata atau mengalami kelahiran prematur

Terlepas dari itu, wanita hamil dengan hipertensi tetap bisa melahirkan bayi dengan kondisi yang sehat. Meski begitu, kondisi tekanan darah harus diperiksakan secara rutin, terutama di masa-masa kehamilan.

Tidak hanya ibu hamil, semua orang sebaiknya waspada terhadap tekanan darah tinggi. Penyakit ini kerap muncul tanpa gejala, sehingga sulit untuk dideteksi.

Perlu pengecekan tekanan darah untuk mengetahuinya. Oleh sebab itu, pemeriksaan medis secara rutin atau berkala sebaiknya dilakukan agar kondisi hipertensi dapat dilacak sejak dini.

Komentar
Punya pertanyaan seputar Kesehatan?
Tanya Sekarang
Tanya Dokter
Bookmark telah disimpan
Memuat...