• Kategori
    • Hidup Sehat
    • Kecantikan
    • Ibu dan Bayi
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Intim
  • Penyakit
  • Obat
  • Konsultasi

Asma

Asma adalah gangguan kesehatan yang menyebabkan saluran pernapasan membengkak karena mengalami peradangan. Sebagai akibatnya, penderita mengalami kesulitan bernapas secara normal, batuk-batuk, dada terasa sesak, serta mengi.

Penyakit ini termasuk kondisi jangka panjang (kronis). Pada anak-anak biasanya akan hilang seiring waktu dan pertambahan usia. Namun kondisi ini tetap berpotensi untuk kambuh. Akan tetapi pada sebagian orang, penyakit ini bisa baru muncul pada usia dewasa.

Apa yang Terjadi pada Penderita Asma?

Pada kondisi normal, manusia bernapas dengan menghirup oksigen melalui hidung agar sampai ke dalam paru-paru. Oksigen kemudian dikirim ke dalam aliran darah melalui saluran-saluran udara yang terdapat dalam paru-paru.

Pada kasus asma, saluran udara tersebut mengalami pembengkakan, otot-otot di sekitarnya mengencang, dan memproduksi banyak lendir. Kondisi ini menyebabkan aliran oksigen terhambat dan penderitanya kesulitan bernapas. Inilah yang disebut serangan asma.

Penyebab Asma dan Faktor Pemicunya

Bila dilihat dari pemicunya, gangguan pernapasan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti di bawah ini:

  • Jenis ekstrinsik, yang dipicu oleh alergi. Misalnya, alergi makanan, debu, bulu binatang, jamur, atau serbuk sari.
  • Jenis intrinsik, yang dipicu oleh iritasi. Contohnya, parfum, produk pembersih rumah, polusi udara, asap rokok, virus, atau udara dingin.
  • Akibat olahraga, yang muncul ketika selama beberapa saat setelah seseorang berolahraga.
  • Jenis nocturnal, yang terjadi pada malam hari. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh tungau debu, nyeri ulu hati, atau siklus tidur seseorang.
  • Akibat paparan objek tertentu di tempat kerja, misalnya karena bahan kimia, debu, cairan, uap, atau gas.

Di samping jenis-jenis di atas, serangan ini juga bisa terjadi akibat beberapa hal berikut:

  • Aktivitas fisik yang terlalu berat.
  • Infeksi saluran pernapasan, seperti flu.
  • Masalah psikologis, misalnya stres.
  • Penyakit tertentu, misalnya GERD (gastroesophageal reflux).
  • Obat-obatan tertentu, misalnya beta-blockers, aspirin, ibuprofen, atau naproxen.

Apa Saja Gejala Asma?

Tanda kemunculan asma berbeda-beda pada tiap penderita. Hal ini tergantung pada tingkat keparahan serangannya. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai adalah:

  • Sering batuk, terutama pada malam hari. Gejala ini akan membuat penderita sulit tidur.
  • Napas sering tersengal-sengal.
  • Muncul mengi terutama terdengar saat menarik napas.
  • Tanda-tanda flu atau alergi seperti bersin-bersin, hidung beringus, atau tersumbat.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan, sehingga kerap murung atau mudah marah.

Ketika merasakan gejala-gejala seperti di atas, sebaiknya segera ditangani. Langkah ini penting dilakukan agar gejala tidak semakin parah dan berujung pada terjadinya serangan yang umumnya ditandai dengan keluhan berikut:

  • Mengi yang parah. Mengi ditandai dengan munculnya bunyi ‘ngik’ tiap penderita menarik dan menghembuskan napas.
  • Otot dada dan leher menegang.
  • Wajah pucat dan berkeringat.
  • Batuk yang parah dan sulit berhenti.
  • Napas yang cepat.
  • Dada seolah-olah ditekan.
  • Sulit berbicara terutama kalimat yang panjang.
  • Kuku dan bibir tampak membiru.
  • Merasa cemas atau panik.

Jika serangan ini tidak segera mendapat penanganan, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat. Dalam kondisi ini, otot di paru-paru akan semakin menegang dan sirkulasi udara menjadi terhambat.

Terhambatnya sirkulasi udara akan menyebabkan hilangnya bunyi ‘ngik’ ketika bernapas. Banyak yang mengira kondisi ini pertanda berkurangnya gejala, namun anggapan ini salah. Keadaan ini justru membahayakan karena menandakan kurangnya asupan udara.

Kondisi penderita kemudian akan semakin memburuk. Diawali dengan kesulitan berbicara, lalu kulit yang tampak membiru karena kekurangan oksigen. Penderita bisa hilang kesadaran, dan tidak menutup kemungkinan berujung pada kematian.

Maka dari itu, penting untuk mengenali gejala gangguan pernapasan ini sejak awal, supaya penanganan bisa dilakukan secepat mungkin.

Cara Mendiagnosis Asma

Penyakit ini bisa didiagnosis dengan mengenali gejala-gejala yang muncul. Selain itu, dokter juga akan melakukan beberapa tes di bawah ini:

  • Spirometri. Pemeriksaan ini menggunakan perangkat medis untuk mengukur jumlah dan kecepatan udara yang dihembuskan pasien, serta volume udara yang dapat ditahan dalam paru-paru.
  • Tes FeNO. Pasien akan diminta untuk menghembuskan napas ke alat khusus yang akan mengukur kadar oksida nitrat dalam napas pasien. Senyawa ini bisa mengindikasikan peradangan dalam paru-paru.
  • Tes peak flow. Tes ini memiliki tata laksana yang sama dengan spirometri, fungsinya untuk menilai adanya penyempitan pada saluran napas sehingga dapat mengevaluasi kapasitas paru. Tes ini juga dapat dilakukan sekaligus untuk memonitor respon pengobatan.
  • Tes alergi. Pemeriksaan ini akan membantu dokter untuk mencari tahu bila gejala yang dialami terpicu oleh adanya alergi.

Cara Mengobati Asma

Penyakit ini termasuk jenis kronis yang akan menyertai penderita seumur hidupnya. Pengobatan yang dilakukan lebih mengarah pada pengendalian gejala yang muncul, sehingga penderita bisa tetap menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal.

Metode penanganan pada gejala penyakit asma bisa dilakukan dengan beberapa cara. Mulai dari penggunaan inhaler, konsumsi obat, hingga operasi.

Inhaler

Alat ini memungkinkan penderita untuk menghirup obat melalui mulut. Ada 3 jenis inhaler yang bisa digunakan, yaitu inhaler pereda, pencegah, dan kombinasi keduanya.

Sesuai namanya, inhaler pereda digunakan ketika gejala menyerang dan inhaler pencegah dipakai untuk menghindari kemunculannya. Sedangkan inhaler kombinasi memiliki kedua fungsi tersebut.

Penggunaan alat ini juga bisa menyebabkan efek samping pada penderita. Detak jantung yang cepat bisa muncul beberapa menit setelah pengidap memakai inhaler pereda. Sementara inhaler pencegah dapat menyebabkan efek samping seperti suara serak, infeksi jamur dalam mulut, serta sakit tenggorokan.

Untuk mengantisipasi efek samping pada inhaler jenis pencegah, pasien bisa berkumur setelah pemakaian. Bila diperlukan, alat tambahan bernama spacer juga dapat dipakai.

Obat-obatan

Ada beberapa jenis obat yang bisa digunakan untuk mengatasi asma, pencegah serangan asma seperti leukotriene receptor antagonist dan pelega untuk meredakan serangan seperti theophylline. Kedua obat yang diminum ini memiliki beberapa efek samping seperti sakit kepala, mual, dan muntah.

Selain itu, penggunaan obat steroid bisa pula dianjurkan untuk digunakan ketika serangan berlangsung, atau dipakai sehari-hari sebagai langkah pencegahan.

Namun pasien sebaiknya memperhatikan efek samping dari obat ini. Steroid yang digunakan jangka panjang bisa menyebabkan penipisan kulit, perubahan mood, kenaikan berat badan, osteoporosis, serta hipertensi.

Suntikan

Pada beberapa kasus dokter dapat memberikan obat berupa suntikan yang akan diberikan tiap beberapa minggu sekali. Salah satu obat yang sering digunakan adalah omalizumab.

Komplikasi Akibat Asma

Jika tidak ditangani dengan saksama, penyakit kronis ini bisa menyebabkan sejumlah komplikasi. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Tubuh senantiasa terasa lemas atau lelah.
  • Mengalami stres, kecemasan, atau bahkan depresi.
  • Kesulitan menjalankan aktivitas, misalnya dalam proses belajar di sekolah atau bekerja.
  • Penyempitan saluran bronkial secara permanen (airway remodeling).
  • Jika terjadi pada anak-anak, pertumbuhannya bisa terganggu termasuk saat masa pubertasnya.

Cara Mencegah Asma

Tidak ada langkah khusus yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Yang bisa dihindari adalah terjadinya serangan dengan menerapkan langkah-langkah berikut:

  • Menghindari pemicu yang menyebabkan munculnya serangan.
  • Menggunakan obat serta inhaler dengan cara yang benar dan sesuai petunjuk dokter.
  • Berhenti merokok.
  • Mengubah gaya hidup ke arah yang lebih sehat, misalnya rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.
  • Menjalani vaksinasi untuk mencegah influenza maupun pneumonia.

Selalu membaca aturan pakai dan efek samping sebelum menggunakan obat-obatan.
Asma bisa berakibat fatal jika tidak ditangani secara cermat dan akurat. Oleh sebab itu, mengenali gejalanya sejak awal sangatlah diperlukan.

Bila mengalami gejala yang mengindikasikan asma, periksakanlah diri Anda ke dokter meski terasa sepele. Jangan meremehkan gangguan pernapasan yang muncul agar Anda tehindar dari risiko komplikasi.

Komentar
Punya pertanyaan seputar Kesehatan?
Tanya Sekarang
Tanya Dokter
Bookmark telah disimpan
Memuat...