• Penyakit
  • Obat
  • Kategori
    • Hidup Sehat
    • Kecantikan
    • Ibu dan Bayi
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Intim
  • Konsultasi
  • Cari Rumah Sakit
  • Daftar
  • Masuk
  • Daftar
  • Masuk

Konstipasi

Konstipasi merupakan keluhan yang umum terjadi di masyarakat. Umumnya, penderita konstipasi mengeluh kesulitan buang air besar (BAB). Pada orang dewasa, kondisi yang juga sering disebut sembelit ini dapat ditandai dengan:

  • Merasa BAB tidak tuntas
  • Harus mengejan saat BAB
  • Tinja yang keras dan sulit dikeluarkan
  • Rasa penuh di perut bawah
  • Frekuensi BAB yang jarang

Penyakit ini memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda dan bisa terjadi pada semua orang. Mengalami sembelit jangka panjang memerlukan intervensi dari dokter.

 

Gejala Konstipasi pada Bayi

Kebiasaan buang air besar pada bayi perlu diperhatikan. Frekuensi BAB yang mengalami perubahan signifikan kemungkinan menandakan terjadinya sembelit. Apa saja yang bisa diwaspadai pada bayi yang mengalami sembelit?

  • Bayi menjadi rewel dan sulit ditenangkan
  • Lemas dan tidak bergerak aktif
  • Terlihat merasa tidak nyaman
  • Penurunan nafsu makan.
  • Kentut dan tinja yang berbau tidak sedap atau lebih tajam dari biasanya.

Perhatikan dengan seksama jika anak Anda mengalami gejala-gejala tersebut. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Kenapa Konstipasi Bisa Terjadi?

Penyebab gangguan ini pada tiap orang akan berbeda-beda, sebagaimana pola hidup yang dijalani. Pola makan sehari-hari bisa menentukan kualitas kesehatan juga. Secara umum, sembelit dapat disebabkan oleh:

  • Kurang konsumsi air putih atau cairan.
  • Tidak mengonsumsi sayur dan buah secukupnya. Keduanya adalah sumber makanan yang mengandung serat untuk melancarkan proses pencernaan.
  • Efek samping penggunaan obat-obatan.
  • Tidak membiasakan diri untuk langsung buang air besar saat merasakannya.
  • Perubahan dalam kebiasaan pola makan sehari-hari.

Gangguan kejiwaan seperti atau depresi, atau gangguan makan dapat menjadi faktor risiko sembelit.

Khusus pada anak-anak, sembelit dapat disebabkan oleh ketakutan menggunakan toilet. Inilah yang menjadikan frekuensi BAB berkurang. Pola makanan yang tidak menyehatkan juga bisa berperan karena memicu malnutrisi.

Cara Mendiagnosis Konstipasi

Konstipasi pada tingkat ringan atau berlangsung dalam jangka waktu pendek (akut) dapat sembuh dengan sendirinya. Khususnya setelah penderita mulai membiasakan diri menjalani pola makan yang kaya serat dan mengonsumsi cukup cairan.

Namun pada tingkat yang lebih parah atau kronis, kondisi penderita perlu diperiksa oleh dokter. Dalam hal ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan kondisi rektum secara digital (menggunakan jari).

Jika dirasa perlu dokter juga bisa merekomendasikan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • X-ray untuk mengetahui seberapa parah gangguan otot rektum saat BAB.
  • Pemindaian MRI guna mengetahui kemampuan otot-otot yang berperan dalam proses BAB.
  • Prosedur kolonoskopi agar bisa memeriksa kondisi usus.
  • Prosedur sigmoidoskopi yang digunakan untuk memeriksa kondisi rektum dan usus besar.
  • Tes darah untuk memastikan apakah pasien mengalami hipotiroidisme atau tidak.
  • Tes transit kolon, yaitu pemeriksaan seberapa cepat makanan diolah dalam tubuh pasien.
  • Manometri anorektal yang akan mengecek kondisi anus.
  • Tes ekspulsi balon guna memeriksa seberapa lama kemampuan pasien melakukan BAB

Mengatasi Konstipasi dengan Tepat

Penanganan utama yang disarankan adalah memperbaiki pola hidup yang selama ini dijalani. Meski ada sebagian penderita yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa menyesuaikan diri, langkah ini terbukti efektif dan bisa dilakukan dengan cara:

  • Mengonsumsi lebih banyak cairan, terutama air putih. Ini akan memperlancar proses pencernaan.
  • Mengonsumsi lebih banyak serat, terutama mencukupi asupan sayur dan buah.
  • Memperbanyak aktivitas olahraga. Lakukanlah secara rutin guna melancarkan aliran darah dan metabolisme tubuh.

Tindakan-tindakan tersebut juga bisa diterapkan sebagai langkah pencegahan. Dengan mengutamakan pola hidup yang lebih sehat, seseorang diharapkan bisa terhindar dari serangan penyakit-penyakit lainnya.

Jika diperlukan, pasien juga akan diberi resep obat pencahar (laksatif). Obat ini akan membantu kelancaran proses buang air besar.

Apa yang Terjadi jika Konstipasi Terus Berlangsung?

Sembelit jangka panjang (kronis) bisa berujung pada komplikasi. Sejumlah komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

  • Impaksi tinja, yaitu penumpukan tinja yang keras dan kering dalam rektum.
  • Mengalami hemoroid atau wasir. Komplikasi ini dapat timbul jika pasien mengejan terus-menerus saat BAB. Pasien hemoroid dapat mengalami perdarahan saat BABA.
  • Inkontinensia usus, yaitu ketidakmampuan pasien dalam mengendalikan BAB. Biasanya timbul akibat penggunaan laksatif secara terus-menerus.

Jangan membiarkan gangguan ini berlarut-larut. Konsultasikan pada dokter jika penyakit pencernaan ini telah mengganggu aktivitas dan kenyamanan Anda.

Komentar
Konsultasi
Memuat...