• Penyakit
  • Obat
  • Kategori
    • Hidup Sehat
    • Kecantikan
    • Ibu dan Bayi
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Intim
  • Konsultasi
  • Cari Rumah Sakit
  • Daftar
  • Masuk
  • Daftar
  • Masuk

Insomnia

Insomnia adalah gangguan tidur yang pada umumnya lebih banyak dialami oleh wanita dibandingkan pria. Yang terjadi pada seseorang yang mengalaminya adalah:

  • Sulit untuk mengawali tidur.
  • Sulit untuk tidur nyenyak/mempertahankan tidur.

Tidak menutup kemungkinan bagi penderita untuk mengalami gabungan dari kedua kondisi di atas. Sebagai akibatnya, penderita bisa merasakan kelelahan berlebihan karena kurangnya waktu tidur.

Jenis-jenis Insomnia

Gangguan tidur ini terbagi menjadi 2 kategori, berdasarkan durasinya. Berikut penjelasannya secara rinci:

  • Insomnia akut atau jangka pendek, biasanya mulai dari beberapa hari hingga minggu. Kondisi ini disebabkan oleh stres, trauma, atau mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.
  • Insomnia kronis atau jangka panjang. Jenis ini dinilai lebih berbahaya. Selain berlangsung lebih lama, insomnia kronis kerap terjadi akibat dampak dari beberapa hal, seperti; penyalahgunaan obat-obatan, masalah psikologi, dan/atau kondisi-kondisi medis tertentu. Penderita insomia kronis bisa mengalami kesulitan tidur hingga 3 kali dalam seminggu selama 3 bulan.

Gejala Insomnia Pada Penderita

Gejala-gejala yang dirasakan oleh tiap penderita insomnia umumnya mirip. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Sulit tidur pada malam hari. Meski bisa, pengidap sulit untuk tidur nyenyak dan sering terbangun lebih awal (biasanya dini hari).
  • Tidak merasa segar saat bangun tidur dan cenderung lesu.
  • Pada siang hari, penderita akan merasa lelah dan mengantuk berlebihan.
  • Mudah marah atau uring-uringan.
  • Kesulitan mengingat suatu hal dan berkonsentrasi.

Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Insomnia?

Terdapat beberapa faktor yang menjadikan seseorang lebih rentan mengalami gangguan tidur. Contohnya:

  • Jenis kelamin. Wanita lebih berisiko mengalami insomnia.
  • Berusia lebih dari 60 tahun.
  • Sering bepergian ke wilayah dengan zona waktu yang berbeda-beda.
  • Mengalami stres tingkat tinggi.
  • Memiliki trauma, depresi, atau gangguan kejiwaan lain.
  • Menjalani pengobatan tertentu.
  • Sering berganti sif kerja, pagi dan malam.
  • Kerap duduk diam, tanpa aktivitas.
  • Jadwal tidur yang tidak teratur.
  • Terlalu banyak makan pada malam hari.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Insomnia?

Mengalami gangguan tidur pada awalnya mungkin tidak berdampak apa-apa pada aktivitas. Namun seiring waktu, kondisi ini akan mengganggu produktivitas penderitanya.

Konsultasikan dengan dokter mengenai kondisi ini agar evaluasi bisa dilakukan. Evaluasi kondisi oleh dokter akan didukung oleh beberapa tindakan, seperti:

  • Pemeriksaan medis terhadap kondisi fisik.
  • Pencatatan riwayat kesehatan pasien dan keluarga.
  • Kebiasaan dan waktu tidur pada beberapa hari atau minggu terakhir.

Sebagai tambahan untuk pendukung evaluasi, dokter akan meminta pasien untuk mencatat pola tidur selama 1-2 minggu ke depan guna mengetahui jam tidur sekaligus perasaan pasien sebelum dan sesudah tidur. Proses ini akan membantu dokter dalam mendiagnosis tingkat keparahan gangguan tidur yang dialami oleh pasien.

Upaya Dokter dalam Mengobati Insomnia

Pada tingkat ringan, dokter bisa menyarankan beberapa langkah sederhana untuk menghindarkan pasien dari gangguan tidur. Langkah-langkah tersebut bisa berupa:

  • Menghindari makanan atau minuman yang mengandung kafein sebelum tidur malam.
  • Membenahi jadwal tidur agar bisa tidur dan bangun dengan lebih teratur.
  • Rutin berolahraga.
  • Menghindari aktivitas selain tidur di kamar tidur. Jangan menonton atau membaca di kamar tidur.
  • Berhenti merokok, karena kandungan nikotinnya bisa memicu gangguan ini.
  • Melakukan teknik relaksasi, misalnya yoga atau meditasi.

Penanganannya juga bisa dilakukan melalui obat-obatan, seperti pil tidur. Tetapi dokter tidak menganjurkan cara ini karena rentan menyebabkan ketergantungan. Senantiasa diskusikan dengan dokter sebelum meminum obat apapun, termasuk obat tidur bebas atau suplemen untuk menangani insomnia.

Penggunaan obat tidur mungkin cocok bagi sebagian orang, namun mengubah pola hidup agar lebih sehat disertai rutin berolahraga merupakan penanganan sekaligus pencegahan insomnia yang dianjurkan.

Di samping obat-obatan, terapi perilaku juga bisa diberikan sebagai alternatif pengobatan insomnia. Serangkaian terapi yang umumnya diberikan adalah:

  • Terapi perilaku kognitif (CBT) agar pasien bisa membentuk kebiasaan tidur yang baik.
  • Teknik relaksasi untuk mengatur pernapasan dan ketegangan otot.
  • Pembatasan waktu tidur agar penderita merasa lelah pada malam berikutnya sehingga memicu tidur nyenyak.
  • Terapi cahaya untuk membantu pasien agar jam tubuhnya bisa disesuaikan dengan waktu tidur yang normal.
Komentar
Konsultasi
Memuat...