• Kategori
    • Hidup Sehat
    • Kecantikan
    • Ibu dan Bayi
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Intim
  • Penyakit
  • Obat
  • Konsultasi
Filter
Reset Filter
Pasang
Jenis Penyakit
Harga
Brand
Rating
Urutkan
Termurah
Termahal
Terpopuler

Diverifikasi oleh

Banyak negara Asia (termasuk Indonesia) yang menilai keperawanan dari selaput dara yang masih utuh. Bahkan seorang wanita terkadang diminta untuk memastikan hal ini dengan menjalani tes keperawanan. Apa sebenarnya tes ini dan perlukah dilakukan?

Tidak jarang, pemeriksaan keperawanan dijadikan alat ukur untuk menilai moral seorang wanita. Padahal, tes ini justru berpotensi memicu beragam masalah kejiwaan bagi kaum hawa yang menjalaninya. Mari simak faktanya di bawah ini!

Fakta dari Tes Keperawanan

tes-keperawanan-gangguan-mental-okaydoc.jpg

Pemeriksaan keperawanan berpotensi menimbulkan masalah kejiwaan, seperti gangguan kecemasan, stres, hingga depresi - OkayDoc

Agar lebih memahami dampak dari pemeriksaan keperawanan, penting untuk mencermati beberapa faktanya terlebih dulu.

1. Menimbulkan Diskriminasi

Pada dasarnya, sebutan keperawanan tidak ada dalam dunia medis maupun ilmiah. Istilah ini umumnya terbentuk dari kombinasi pandangan sosial, agama, dan budaya. Sayangnya, pandangan ini cenderung mencerminkan diskriminasi gender terhadap kaum hawa.

Tidak jarang, pandangan tersebut mengarahkan publik untuk memberikan cap bahwa selaput dara milik kaum hawa harus tetap utuh hingga menikah, apapun alasannya. Padahal, seperti yang kita ketahui, selaput dara bisa saja robek akibat hal-hal lain di luar hubungan seksual.

Oleh sebab itu, anggapan terhadap keperawanan yang berdasarkan keutuhan selaput dara bisa saja malah menyakiti sebagian besar wanita yang menjalaninya, karena dapat melecehkan martabatnya.

Baca Juga: Mengenal Fungsi Serviks dan Cara Jitu Jaga Kesehatannya

2. Berpotensi Menimbulkan Masalah Kejiwaan

Tidak hanya melanggar hak asasi perempuan, tes ini juga berpotensi menimbulkan masalah kejiwaan. Pemeriksaan utuh atau tidaknya selaput dara seorang wanita dianggap menyerupai situasi saat seseorang menjadi korban pada tindak pemerkosaan.

Bayangkan saja bila ada korban pemerkosaan yang terpaksa kembali menjalani pemeriksaan jenis ini. Trauma yang terpendam dapat kembali muncul dan memberikan tekanan pada jiwanya.

Tidak sedikit wanita yang mengalami konsekuensi fisik, psikologis, maupun sosial akibat menjalani tes ini. Mulai dari merasa dilecehkan, munculnya gangguan kecemasan, hingga stres dan depresi.

tes-keperawanan-pelarangan-okaydoc.jpg

WHO telah mengimbau penghentian praktik tes keperawanan untuk melindungi hak asasi perempuan - OkayDoc

3. Tidak Memiliki Dasar Ilmiah

Mengingat istilah keperawanan tidak ada dalam dunia medis, ini berarti tes untuk menentukan seorang wanita masih perawan atau tidak pun sejatinya tidak memiliki dasar ilmiah atau klinis.

Sampai saat ini, tidak ada pemeriksaan medis yang mampu membuktikan apakah seseorang pernah melakukan hubungan seks atau belum, baik pada pria maupun wanita.

Tidak hanya itu, selaput dara juga memiliki bentuk, ukuran, dan ketebalan yang bervariasi pada tiap wanita. Maka dari itu, tes yang memeriksa keperawanan melalui kondisi selaput ini tidak dapat menjadi tolok ukur dari pernah atau tidaknya seorang wanita melakukan hubungan seksual.

Dengan mengetahui fakta-fakta tersebut, kesadaran semua pihak yang bersangkutan terhadap dampak buruk dari tes keperawanan diharapkan bisa meningkat. Badan kesehatan dunia (WHO) bahkan mengimbau praktik tes ini dihentikan demi melindungi hak asasi perempuan.

Keperawanan, Selaput Dara, dan Misteri Tubuh Wanita

tes-keperawanan-kekerasan-seksual-okaydoc.jpg

Selaput dara yang rusak pada anak-anak terkadang dianggap sebagai penanda adanya pelecehan seksual atau bahkan inses - OkayDoc

Selaput dara terbentuk sebagai bagian dari perkembangan vagina. Namun hingga saat ini, belum ada penelitian yang bisa membuktikan apa sebenarnya fungsi dan tujuan dari keberadaan selaput ini pada tubuh wanita.

Meski demikian, pada bayi dan anak-anak, selaput dara dapat berfungsi sebagai pelindung agar tidak ada benda asing yang masuk ke vagina.

Karenanya, selaput dara yang rusak pada anak-anak dan bayi perempuan terkadang dianggap sebagai penanda dari adanya pelecehan seksual atau bahkan inses.

Mungkin alasan inilah yang juga mendasari pendapat bahwa bila selaput dara robek, seorang perempuan otomatis dianggap pernah berhubungan intim dan tidak perawan lagi.

Namun, indikator keperawanan tersebut tidak sepenuhnya benar. Secara medis, selaput dara yang utuh sempurna hanyalah mitos. Pasalnya, selaput ini merupakan jaringan vagina yang memiliki variasi pada bentuk, ukuran, dan ketebalannya.

tes-keperawanan-penggunaan-tampon-okaydoc.jpg

Pemakaian tampon dapat menjadi salah satu penyebab selaput dara robek - OkayDoc

Secara umum, selaput dara tidak menutupi seluruh lubang vagina. Dengan ini, darah menstruasi bisa keluar tanpa hambatan.

Meskipun begitu, ada pula wanita dengan selaput dara yang sangat tebal dan mengelilingi seluruh lubang vagina. Kondisi seperti ini akan menyebabkan darah menstruasi tidak bisa keluar, sehingga memerlukan penanganan medis.

Di samping itu, tidak hanya hubungan seksual yang bisa merobek selaput dara. Terdapat sejumlah kondisi atau aktivitas yang dapat merobek selaput ini. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Aktivitas fisik tertentu, seperti senam dan menari.
  • Cedera yang menyebabkan trauma langsung pada daerah vagina, misalnya jatuh dari sepeda.
  • Pemakaian tampon.
  • Pemeriksaan ginekologi.

Ada juga kondisi dimana selaput dara sangat lentur dan bisa bergeser ketika ada penetrasi. Sebagai akibatnya, wanita tidak mengalami perdarahan ketika terjadi penetrasi untuk pertama kalinya.

Fakta dan penjelasan di atas menggambarkan bahwa kondisi selaput dara saja tidak dapat digunakan sebagai indikator dari keperawanan seorang wanita.

Mengingat bahwa pemeriksaan keperawanan bisa menyebabkan dampak buruk pada fisik maupun kejiwaan wanita yang menjalani, alangkah baiknya bila tes ini ditinjau ulang. Apalagi tes ini pun tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Gatal Pada Kemaluan Wanita (Alami)!

Tes keperawanan yang semula berujuan untuk menjaga kehormatan kaum hawa, bisa saja menjadi bumerang dan menyudutkan ketika seorang wanita dinilai tidak perawan lagi setelah menjalani tes ini. Padahal, keperawanan merupakan sebuah konsep abstrak yang sulit dibuktikan secara medis.

Bila masih ragu dan ingin tahu lebih banyak, kamu mungkin bisa berkonsultasi dengan dokter yang terpercaya agar memperoleh informasi yang lebih lengkap.

Berikan Komentar
Artikel Terkait
Organ Reproduksi
Kebenaran Mitos Selaput Dara Robek dan Keperawanan
Nina Hertiwi
08 Nov 2018
Memuat...
Punya pertanyaan seputar Kesehatan?
Tanya Sekarang
Tanya Dokter
Bookmark telah disimpan
Memuat...